16 Juni 2019

DEMI MASA DEPAN

10 tahun yang lalu.
Aku menatap suamiku tak percaya.

"Pokoknya semua beres, yang kita perlukan sekarang hanya besarin anak-anak, ngasuh dan ngedidik mereka. Soal kampus dan masa depan mereka, Mamah gak usah kuatir lagi," kata Mas Farid terus meyakinkan.

"Tapi apa gak ada kemungkinan kebijakan itu berubah, Mas? Siapa tahu setelah direkturnya ganti, aturannya juga ganti." Tetap saja aku ragu.

Mas Farid menggeleng. "Gak bisa diganti, MOUnya aja sepuluh tahun. Sepuluh tahun lagi, anak kedua kita udah lulus SMA, jadi insya Allah mereka masih bisa masuk."
Aku mengangguk-angguk mendengarnya.

Kini aku mengerti, alasan Mas Farid tidak ingin berpindah perusahaan selama ini. Dia ingin tetap bekerja pada perusahaan yang tak hanya menjanjikan fasilitas dan gaji untuknya, tapi juga memikirkan masa depan anak-anak kami.

Perusahaan multinasional tempat suamiku bekerja menjadi sponsor utama jurusan baru di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia.

Semua putra-putri dari karyawan yang telah bekerja lebih dari 15 tahun, akan memperoleh hak istimewa kuliah pada jurusan itu tanpa perlu ikut tes masuk. Tak hanya itu, soal biaya juga ada beasiswa khusus jika anak bersangkutan mempertahankan batas IPK tertentu. Setelah kuliah mereka selesai, perusahaan juga membuka lowongan kerja untuk mereka.

Sungguh, aku sangat senang mendengarnya. Hilang semua penyesalanku karena selama ini Mas Farid berulangkali menolak peluang kerja di perusahaan yang menawarkan benefit lebih besar dalam bentuk fasilitas dan gaji.

Empat tahun kemudian.
Anak pertamaku lulus SMA. Prestasinya luar biasa. Sejak kecil, ia selalu juara kelas bahkan ikut beberapa kompetisi ilmiah hingga ke luar negeri. Jalan masa depannya begitu licin, hingga aku merasa tak perlu membahas pilihannya saat kuliah nanti. Tak ada yang perlu dikuatirkan.

Sampai kemudian...
"Loh Mbak, ini kamu pilih apa? Jurusan apa ini? Kampus mana ini?" tanyaku saat melihat lembar formulir SNMPTN yang ia letakkan di atas meja belajarnya.

Dengan tenang putriku menoleh dan mengangkat bahu. "Oh itu, Ilmu Gizi, Mah. Yang satunya Biokimia. Jakarta semua kok itu."

"Loh gak ngambil teknik di UXX?" tanyaku bingung. Ini jelas di luar rencanaku dan Mas Farid.

"Yang Papah suruh itu ya Mah? Enggak ah. Alya gak mau. Kejauhan. Kalo mau jauh, sekalian aja Alya kuliah ke luar. Lagian Alya gak mau milih jurusan itu," kilah putriku tenang.

'Tapi di situ udah pasti kamu diterima, Ya. Kamu kan pinter, paling empat tahun juga selesai dan sebelum Papah pensiun kamu bisa kerja."

Alya tertawa. "Tuh Mamah tau Alya pinter, tapi masih ngeraguin pilihan Alya. Walaupun gak ngikut maunya Papah Mamah, Alya yakin masih bisa nyari kerjaan... Eh enggak ding! Alya pengen punya usaha sendiri. Bukannya jadi karyawan sampe tua kayak Papah."

Aku menatap putriku masygul. Itukah yang ia pikirkan selama ini? Itukah penilaiannya terhadap kesetiaan Papanya bekerja pada perusahaan?

"Tapi Ya, cari kerjaan sekarang itu susah, apalagi mulai usaha. Kami gak bisa modalin kamu, kamu mau cari dari mana kalo gak kerja?" tanyaku lagi.

Alya masih tertawa. "Mamah ini skeptis banget sih jadi orangtua. Alya udah punya planning sendiri, Mah. Mamah tenang aja deh."

"Tapi, Nak... "

Tangan Alya yang memelukku dari belakang menghentikan ucapanku. "Alya bukan Mamah, Alya juga bukan Papah. Pokoknya Mamah percaya aja sama Alya. Insya Allah Alya bisa."

Malam itu, saat aku menyampaikan pada Mas Farid tentang pilihan Alya, ia hanya menghembuskan napas panjang.

"Ya sudah, mau diapain lagi? Itu sudah keputusannya kan? Biarlah."

Lalu, Alya gagal masuk melalui jalur SNMPTN, tapi ia berhasil masuk melalui SBMPTN sesuai keinginannya. Putriku resmi menjadi mahasiswi Ilmu Gizi di sebuah PTN di Jakarta.

Tahun lalu.
Giliran adik Alya, Amir yang lulus dari SMA. Seperti yang sudah kuduga, pilihan Amir juga jauh dari keinginanku dan Mas Farid.

"Pilihanmu udah yakin di situ, Mas?" tanyaku usai melihat lembaran formulir SBMPTN putraku. Ia tak ikut SNMPTN karena prestasinya tak sebagus sang kakak.

Amir mengangguk.

"Kenapa gak ngambil jurusan yang pasti masa depannya aja sih, Mas?" Aku tak ingin menyerah seperti pada Alya dulu. Sebentar lagi Mas Farid pensiun.

Amir menatapku. Ia tahu maksudku karena selama beberapa tahun terakhir, aku sering menyinggung masalah itu. Tapi ia justru mengangkat bahunya. "Enggak ah! Amir gak suka mesin, Mah. Amir pengen ambil Ilmu Komputer aja atau Desain Grafis."

"Tapi sayang loh, Mas. Mbakmu udah gak mau. Sekarang kamu lagi. Kamu kan tau kerja di kantor Papah itu enak."

Amir malah tertawa. "Gak mau, Mah. Bukan soal enak atau enggak. Tapi Amir gak suka dunia permesinan kayak Papah. Alif aja deh nanti."

Aku terdiam. Alif baru masuk SMA tahun ini, dan jurusan yang ia pilih adalah IPS. Sejak SMP, Alif juga sudah menetapkan pilihan pada bidang bahasa. Tak ada celah bagiku untuk menjatuhkan harapan padanya.

"Masa depan itu yang ngejalanin Amir, Mah. Bukan Mamah atau Papah. Jadi Mamah bantu doain aja supaya jalan Amir lancar," kata putraku lagi sambil berlalu, menutup ruang negosiasi kami.

Tahun ini.
Mas Farid menatapku yang sudah berurai airmata. Ia merangkulku dan berbisik, "Terima kasih sudah mendampingiku selama ini ya, Sayang. Kalau bukan karena kamu, gak mungkin saya bisa bekerja dengan baik selama ini."

Aku mengangguk dan membiarkan suamiku menghapus airmataku, sebelum kami menatap ke sekeliling kami bersama. Pada teman-teman kerja suamiku. Pada tiga putra-putri kami yang ikut hadir.

Hari ini acara perpisahan Mas Farid. Hari terakhir ia bekerja di perusahaan. Selama lebih dari separuh hidupnya, ia bekerja di perusahaan Jepang Indonesia ini. Sekarang semuanya selesai.

Tak ada yang tahu selain aku, Mas Farid bertahan bekerja selama ini demi masa depan putra-putri kami. Tapi akhirnya, kami tahu tak semudah itu mengatur masa depan. Buktinya sampai akhir tak ada seorang pun dari anak kami yang memilih bidang yang sama dengan Mas Farid.

Alya memilih membuka usaha katering menu sehat bersama seniornya dan bekerjasama dengan dua rumah sakit, jauh sebelum ia diwisuda sejak dua tahun lalu.

Amir masih kuliah tapi ia lebih sibuk dari Alya. Keisengannya membuat program malah menyita waktunya belajar. Dunia komputer telah menjadi bagian dari hidupnya sekarang.

Soal Alif, aku tak lagi berusaha membujuk atau mempengaruhinya. Putraku itu sudah punya rencana sendiri yang berkali-kali ia tekankan padaku. Mungkin ia takut, aku akan memaksanya menjalani pilihanku dan Mas Farid itu karena ia putra terakhir kami.

Beberapa hari lalu ketika aku dan Mas Farid hanya berdua di rumah, kami terkekeh mengingat usaha kami membuat jalan masa depan anak-anak itu.

"Tau gak, Mah? Yang ngalamin gitu bukan cuma kita. Anaknya Pak Teguh juga gitu. Ogah juga dan malah jadi dokter. Pak Teguh sampe tepok jidat bayar biaya kuliah anaknya yang mahal itu. Pak Darman yang anaknya seumuran Alya juga gitu. Anaknya malah ngambil manajemen bisnis."

Aku jadi ingin tahu lebih banyak. "Selama ini ada yang manfaatin keuntungan itu gak sih, Mas?"

Kening Mas Farid berkerut mengingat-ingat. "Oh ada! Anaknya Pak Fajar. Mantan manajer di Semarang dulu. Anaknya angkatan kedua kalo gak salah. Tapi ya gitu... pas lulus, bukannya kerja di perusahaan bapaknya, malah kerja di kompetitor. Ha ha ha."

Hampir bersamaan, kami tertawa lagi. Menertawai kebodohan para orangtua yang terlalu berusaha keras mengatur masa depan anak-anaknya ini.

Terinspirasi dari kejadian nyata.
Jakarta 2019'

Tidak ada komentar: