23 Februari 2019

Learning Without Stress

Saya agak sedih ketika tahu konsep belajar di pikiran para orangtua mulai disalahartikan.
Ternyata masih banyak yang mengindentikkan antara belajar dengan dunia penuh tekanan dan penyebab utama stress pada anak.

Saya tak mau memakai bahasa psikologi yang rumit, tapi bercerita tentang anak saja ya.

Putri saya 'belajar' menjadi bilingual. Tepatnya usia 10 tahun baru mulai. Ia punya kecerdasan linguistik yang sudah saya deteksi sejak balita, tapi baru mulai di usia ketika saya anggap takkan menimbulkan sindrom bingung bahasa. Kemampuannya menyerap bahasa asing sudah terlihat sejak balita, bukan hanya bahasa Inggris, tapi juga dua bahasa lain Korea dan Mandarin bahkan Spanish. Hanya kesininya, saya minta dia fokus dua bahasa dulu.

Banyak yang menganggap membuat anak bicara dalam 2 bahasa adalah sebuah ambisi dari orangtua. Padahal, it's something fun for her. Seperti yang pernah putri saya bilang "It's just like a game for me!"

Ia menikmati saat-saat berbicara dengan saya atau Abang, hingga kami jadi punya quality time sekaligus memperkaya kosakata. Mungkin kalau dalam bahasa ibu saja, ia takkan terlalu bersemangat bicara seperti itu. Adek malah sering tak sadar menggunakan bahasa asing pada orang tak seharusnya karena kebiasaan, bukan karena tertekan. Sama seperti anak lain, yang nyaman memakai bahasa atau logat daerah. Buat Adek, atau saya, bahasa Inggris itu sama saja seperti bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Jawa, Sunda bahkan bahasa kasar yang mulai marak dipakai anak-anak.

Adek juga jadi lebih banyak berinteraksi karena banyak orang yang tertarik bicara dengannya, termasuk dengan orang asing yang menjadi rekan kerja Ayah atau Emak. Ia juga belajar dasar 'teaching' karena banyak orang yang spontan minta diajari. Teman-temannya lebih banyak karena mendekati anak berbahasa unik itu sesuatu yang menyenangkan.

Anak saya yang lain, Kakak. Juga dianggap aneh karena punya hobi belajar. Iya Bu Pak... Gak salah. Anak saya yang satu ini hobinya belajar.

Tapi apa ia tertekan?
Sama seperti Adek... Ia bilang, "Kakak gak tau lagi harus jelasin apa. Kakak bilang kakak itu suka belajar, gak ada yang percaya, Mak."

Kata Kakak, ia sebal karena sering dianggap pencitraanlah, sok rajinlah dan sebagainya. Jadi itu sebabnya ia memproteksi diri dengan tak banyak mengekspos.

Jangan tanya seberapa besar usaha saya membuatnya seperti anak-anak lain. Kami bahkan pernah bekerja sama dengan rumah sakit untuk menyembunyikan buku pelajaran waktu ia sakit 10 hari dan harus istirahat total, tapi ia masih bisa 'belajar' berkat kunjungan teman-temannya. Saya sampai dipanggil dokter dan akhirnya Kakak juga konsul psikiater. Tapi begitulah, Kakak hanya suka belajar.

Abang juga. Ia menyukai Marching Band dan mengaji. Sekali lagi saya dikritik karena terlalu memaksa anak berlatih keras, hingga tak ada libur weekend baginya. 5 hari sekolah, 2 hari latihan dan mengaji. Padahal, ketika saya minta ia sesekali untuk tidak latihan atau libur ngaji, itu membuatnya sangat sedih. Bayangkan, anak laki-laki ini yang tak pernah menangis ketika diomeli, justru menitikkan airmata saat dilarang latihan.

Menurut Abang, tidak mudah menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah dan ia juga ingin merasakan punya kakak. Nah, di tempatnya mengaji, ia punya banyak 'kakak'.

Ketiganya bisa menyukai dan menikmati hal-hal yang tak biasa karena saya memegang konsep 'Fun Learning'. Belajar sambil bersenang-senang.

Adek suka ngomong bahasa Inggris, karena kami bisa mengobrol tentang banyak hal sambil tertawa dan bercanda. Kakak suka belajar, karena ia bisa berdiskusi sambil bercanda dengan saya atau ayahnya. Abang suka latihan MB dan mengaji bareng, karena ia bisa bertemu dengan banyak teman dan ia suka berada diantara mereka.

Sementara untuk saya, seperti ibu lain, kadang terpancing emosi ketika mengajar anak. Karena itu, saya berubah taktik. Mengikuti cara alm. Nenek, seorang mantan guru, kepsek dan anggota DPR. Memilih konsep bermain sambil belajar. Bukan karena ingin cepat berhasil, tapi karena saya tak mau emosi. Dengan bermain bersama anak, saya menikmatinya juga kan?

Itu sebabnya saya mengunjungi swalayan untuk mengajari Adek kosakata Inggris, membuat Abang suka latihan, dengan mengamati orang (making fun with the mind games), menggunakan aneka mainan untuk mengajarkan konsep IPA dasar pada Kakak, memberi buku-buku berwarna bahkan grafik gambar untuk mereka. Bahkan demi membuka pengetahuan tentang tubuh manusia, ada gambar tengkorak beserta susunan organ lengkap di kamar anak-anak.

Saya juga membolehkan anak-anak menghias buku tulis mereka untuk memakai spidol atau pen aneka warna, menggambar, atau menulis di bagian belakang atau bagian kosong. Intinya kalau mereka Feel down or bored saat belajar, so just make fun. Bahkan, Kakak pernah membuat muka lucu tiba-tiba, hingga teman-temannya tertawa keras di jam pelajaran membosankan. Itu saya yang ajari.

Jangan kuatir diprotes guru, karena ketika saya jelasin konsep itu, mereka rata2 mengerti kok. Sejauh ini, di sekolah yang katanya tuntutan terlalu tinggi, malah guru-gurunya cukup kooperatif dengan cara belajar yang disesuaikan dengan anak ini.

Kalau kita menganggap belajar itu tekanan untuk anak, laah... Itu sama saja tak menikmati peran sebagai orangtua dong. Belajar itu dari lahir hingga ke liang lahat loh. Kalau konsep kita dari awal selalu negatif, ya gimana mau dapet hasil positif?

Yang perlu diperbaiki, mungkin tahap akhir saja. Selama anak have fun saat belajar, mau dia entar juara atau tidak, bisa atau tidak, tak perlu dipikirkan. It's just a result anyway. Ambisi beginilah yang harusnya ditekan.

Satu contoh misal ketika Abang di-scout oleh grup MB lain yang lebih besar, jaminan juara dan pasti lebih terkenal. Tapi saya serahkan keputusan pada Abang dan ia memilih menolak. Nah... Inilah saat saya menekan ego dan ambisi sebagai orangtua.

Begitu juga ketika Adek ngambek tak mau hadir di Semifinal Speech Competition atau audisi tv karena capek nunggu, dan ketika Kakak menolak ikut Olimpiade Fisika demi ikut acara jalan-jalan dengan eks teman SMPnya atau saat ia memilih jurusan yang bertentangan dengan pilihan saya atau Ayahnya.

Kalau ditanya dukanya, kami juga sering menghadapi dilema saat anak-anak menunjukkan perlawanan. Tapi balik lagi, proses learning-teaching ini harus tetap menyenangkan kedua pihak. Saya dan anakpun belajar menerima hasil akhir, pahit atau manis.

Buat saya, mau hasilnya gimana, yang penting anak sudah belajar. Suatu saat, hasil belajarnya pasti bermanfaat. Makin banyak yang ia serap, makin mudah ia melewati kesulitan hidupnya nanti.

Sudah cukup panjang saya cerita, tapi semoga akan jadi masukan yang baik untuk para orangtua. Please, nikmatilah peran Anda! Jadi orangtua itu menyenangkan hanya kalau kita menikmatinya.

1 komentar:

Fanny F Nila mengatakan...

kdg kalo baca yg begini, aku sedih inget zaman aku msh sekolah. kalo zaman dulu sih, ortu cendrung keras dan maksain kehendaknya. ga tau deh dgn ortu lain. tp aku selalu dipaksa utk ikut apa yg papa mau. Ga boleh masuk IPS (pdhl IPS ku tertinggi waktu itu), ga boleh pilih jurusan perhotelan ato yang aneh2 lainnya menurut dia, harus ikut les piano padahl aku benci setengah mati. hasilnya, ga ada yg bgs. krn aku ngelakuin dgn setengah hati.

itu sih yg g mau aku ulangin dengan anakku mba. mereka boleh memilih sesuai dengan hobi dan kemampuannya. aku sebagai ortu hanya mensupport dan menyediakan fasilitas, juga memberi saran kalo perlu. tp ga akan aku memaksa kehendakku sendiri utk anak2. ga pengen aja mereka merasa tertekan nantinya :(