16 Juni 2019

DEMI MASA DEPAN

10 tahun yang lalu.
Aku menatap suamiku tak percaya.

"Pokoknya semua beres, yang kita perlukan sekarang hanya besarin anak-anak, ngasuh dan ngedidik mereka. Soal kampus dan masa depan mereka, Mamah gak usah kuatir lagi," kata Mas Farid terus meyakinkan.

"Tapi apa gak ada kemungkinan kebijakan itu berubah, Mas? Siapa tahu setelah direkturnya ganti, aturannya juga ganti." Tetap saja aku ragu.

Mas Farid menggeleng. "Gak bisa diganti, MOUnya aja sepuluh tahun. Sepuluh tahun lagi, anak kedua kita udah lulus SMA, jadi insya Allah mereka masih bisa masuk."
Aku mengangguk-angguk mendengarnya.

Kini aku mengerti, alasan Mas Farid tidak ingin berpindah perusahaan selama ini. Dia ingin tetap bekerja pada perusahaan yang tak hanya menjanjikan fasilitas dan gaji untuknya, tapi juga memikirkan masa depan anak-anak kami.

Perusahaan multinasional tempat suamiku bekerja menjadi sponsor utama jurusan baru di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia.

Semua putra-putri dari karyawan yang telah bekerja lebih dari 15 tahun, akan memperoleh hak istimewa kuliah pada jurusan itu tanpa perlu ikut tes masuk. Tak hanya itu, soal biaya juga ada beasiswa khusus jika anak bersangkutan mempertahankan batas IPK tertentu. Setelah kuliah mereka selesai, perusahaan juga membuka lowongan kerja untuk mereka.

Sungguh, aku sangat senang mendengarnya. Hilang semua penyesalanku karena selama ini Mas Farid berulangkali menolak peluang kerja di perusahaan yang menawarkan benefit lebih besar dalam bentuk fasilitas dan gaji.

Empat tahun kemudian.
Anak pertamaku lulus SMA. Prestasinya luar biasa. Sejak kecil, ia selalu juara kelas bahkan ikut beberapa kompetisi ilmiah hingga ke luar negeri. Jalan masa depannya begitu licin, hingga aku merasa tak perlu membahas pilihannya saat kuliah nanti. Tak ada yang perlu dikuatirkan.

Sampai kemudian...
"Loh Mbak, ini kamu pilih apa? Jurusan apa ini? Kampus mana ini?" tanyaku saat melihat lembar formulir SNMPTN yang ia letakkan di atas meja belajarnya.

Dengan tenang putriku menoleh dan mengangkat bahu. "Oh itu, Ilmu Gizi, Mah. Yang satunya Biokimia. Jakarta semua kok itu."

"Loh gak ngambil teknik di UXX?" tanyaku bingung. Ini jelas di luar rencanaku dan Mas Farid.

"Yang Papah suruh itu ya Mah? Enggak ah. Alya gak mau. Kejauhan. Kalo mau jauh, sekalian aja Alya kuliah ke luar. Lagian Alya gak mau milih jurusan itu," kilah putriku tenang.

'Tapi di situ udah pasti kamu diterima, Ya. Kamu kan pinter, paling empat tahun juga selesai dan sebelum Papah pensiun kamu bisa kerja."

Alya tertawa. "Tuh Mamah tau Alya pinter, tapi masih ngeraguin pilihan Alya. Walaupun gak ngikut maunya Papah Mamah, Alya yakin masih bisa nyari kerjaan... Eh enggak ding! Alya pengen punya usaha sendiri. Bukannya jadi karyawan sampe tua kayak Papah."

Aku menatap putriku masygul. Itukah yang ia pikirkan selama ini? Itukah penilaiannya terhadap kesetiaan Papanya bekerja pada perusahaan?

"Tapi Ya, cari kerjaan sekarang itu susah, apalagi mulai usaha. Kami gak bisa modalin kamu, kamu mau cari dari mana kalo gak kerja?" tanyaku lagi.

Alya masih tertawa. "Mamah ini skeptis banget sih jadi orangtua. Alya udah punya planning sendiri, Mah. Mamah tenang aja deh."

"Tapi, Nak... "

Tangan Alya yang memelukku dari belakang menghentikan ucapanku. "Alya bukan Mamah, Alya juga bukan Papah. Pokoknya Mamah percaya aja sama Alya. Insya Allah Alya bisa."

Malam itu, saat aku menyampaikan pada Mas Farid tentang pilihan Alya, ia hanya menghembuskan napas panjang.

"Ya sudah, mau diapain lagi? Itu sudah keputusannya kan? Biarlah."

Lalu, Alya gagal masuk melalui jalur SNMPTN, tapi ia berhasil masuk melalui SBMPTN sesuai keinginannya. Putriku resmi menjadi mahasiswi Ilmu Gizi di sebuah PTN di Jakarta.

Tahun lalu.
Giliran adik Alya, Amir yang lulus dari SMA. Seperti yang sudah kuduga, pilihan Amir juga jauh dari keinginanku dan Mas Farid.

"Pilihanmu udah yakin di situ, Mas?" tanyaku usai melihat lembaran formulir SBMPTN putraku. Ia tak ikut SNMPTN karena prestasinya tak sebagus sang kakak.

Amir mengangguk.

"Kenapa gak ngambil jurusan yang pasti masa depannya aja sih, Mas?" Aku tak ingin menyerah seperti pada Alya dulu. Sebentar lagi Mas Farid pensiun.

Amir menatapku. Ia tahu maksudku karena selama beberapa tahun terakhir, aku sering menyinggung masalah itu. Tapi ia justru mengangkat bahunya. "Enggak ah! Amir gak suka mesin, Mah. Amir pengen ambil Ilmu Komputer aja atau Desain Grafis."

"Tapi sayang loh, Mas. Mbakmu udah gak mau. Sekarang kamu lagi. Kamu kan tau kerja di kantor Papah itu enak."

Amir malah tertawa. "Gak mau, Mah. Bukan soal enak atau enggak. Tapi Amir gak suka dunia permesinan kayak Papah. Alif aja deh nanti."

Aku terdiam. Alif baru masuk SMA tahun ini, dan jurusan yang ia pilih adalah IPS. Sejak SMP, Alif juga sudah menetapkan pilihan pada bidang bahasa. Tak ada celah bagiku untuk menjatuhkan harapan padanya.

"Masa depan itu yang ngejalanin Amir, Mah. Bukan Mamah atau Papah. Jadi Mamah bantu doain aja supaya jalan Amir lancar," kata putraku lagi sambil berlalu, menutup ruang negosiasi kami.

Tahun ini.
Mas Farid menatapku yang sudah berurai airmata. Ia merangkulku dan berbisik, "Terima kasih sudah mendampingiku selama ini ya, Sayang. Kalau bukan karena kamu, gak mungkin saya bisa bekerja dengan baik selama ini."

Aku mengangguk dan membiarkan suamiku menghapus airmataku, sebelum kami menatap ke sekeliling kami bersama. Pada teman-teman kerja suamiku. Pada tiga putra-putri kami yang ikut hadir.

Hari ini acara perpisahan Mas Farid. Hari terakhir ia bekerja di perusahaan. Selama lebih dari separuh hidupnya, ia bekerja di perusahaan Jepang Indonesia ini. Sekarang semuanya selesai.

Tak ada yang tahu selain aku, Mas Farid bertahan bekerja selama ini demi masa depan putra-putri kami. Tapi akhirnya, kami tahu tak semudah itu mengatur masa depan. Buktinya sampai akhir tak ada seorang pun dari anak kami yang memilih bidang yang sama dengan Mas Farid.

Alya memilih membuka usaha katering menu sehat bersama seniornya dan bekerjasama dengan dua rumah sakit, jauh sebelum ia diwisuda sejak dua tahun lalu.

Amir masih kuliah tapi ia lebih sibuk dari Alya. Keisengannya membuat program malah menyita waktunya belajar. Dunia komputer telah menjadi bagian dari hidupnya sekarang.

Soal Alif, aku tak lagi berusaha membujuk atau mempengaruhinya. Putraku itu sudah punya rencana sendiri yang berkali-kali ia tekankan padaku. Mungkin ia takut, aku akan memaksanya menjalani pilihanku dan Mas Farid itu karena ia putra terakhir kami.

Beberapa hari lalu ketika aku dan Mas Farid hanya berdua di rumah, kami terkekeh mengingat usaha kami membuat jalan masa depan anak-anak itu.

"Tau gak, Mah? Yang ngalamin gitu bukan cuma kita. Anaknya Pak Teguh juga gitu. Ogah juga dan malah jadi dokter. Pak Teguh sampe tepok jidat bayar biaya kuliah anaknya yang mahal itu. Pak Darman yang anaknya seumuran Alya juga gitu. Anaknya malah ngambil manajemen bisnis."

Aku jadi ingin tahu lebih banyak. "Selama ini ada yang manfaatin keuntungan itu gak sih, Mas?"

Kening Mas Farid berkerut mengingat-ingat. "Oh ada! Anaknya Pak Fajar. Mantan manajer di Semarang dulu. Anaknya angkatan kedua kalo gak salah. Tapi ya gitu... pas lulus, bukannya kerja di perusahaan bapaknya, malah kerja di kompetitor. Ha ha ha."

Hampir bersamaan, kami tertawa lagi. Menertawai kebodohan para orangtua yang terlalu berusaha keras mengatur masa depan anak-anaknya ini.

Terinspirasi dari kejadian nyata.
Jakarta 2019'

30 April 2019

Anakku Bukan Anak Bilingual

"Fira kok gak diajarin bilingual, Mbak?"

Pertanyaan sederhana itu sering ditanyakan ke saya. Tidak hanya pada putri bungsu saya, tapi juga ketika kakak-kakaknya masih kecil dulu. Hanya sekarang saya dan Abang memang sering bercakap-cakap dengan bahasa Inggris sederhana, jadi pertanyaan tentang dirinya berkurang. Sementara pada Kakak, si sulung, rata-rata teman-teman saya sudah tahu bahwa putri saya yang satu itu punya kebutuhan khusus yang berbeda dengan kedua adiknya.

Kembali pada Adek, panggilan sayang saya pada si bungsu Fira. Seperti yang pernah saya beritahu bahwa ia telah berulang kali menjadi objek praktek psikologi anak, sehingga saya tahu kalau Adek punya kecerdasan linguistik yang bagus. Setidaknya saat ini ia sudah mengembangkan bakat menulis dan berbicaranya dengan mulai menulis cerita-cerita pendek ala anak-anak.

15 April 2019

Tips & Strategi Menuju Kampus Terbaik (1)


Tidak ada yang mudah dalam membentuk masa depan.

Bahkan Thomas Edison sendiri
pernah bilang bahwa keberhasilan itu membutuhkan 1 persen inspirasi dan 99
persen adalah keringat alias usaha.

Banyak yang bilang bahwa putri
saya sangat beruntung bisa lolos seleksi beberapa kampus ternama dengan jurusan
yang bagus, tanpa tes atau ujian yang memusingkan. Peluang kecil di antara
jutaan anak-anak Indonesia yang mencoba peluang ini.

Dalam artikel ini, saya dan Kakak
akan menceritakan proses panjang hingga akhirnya Kakak mendapat begitu banyak
peluang bagus untuk memilih salah satu dari kampus-kampus terbaik itu.

23 Februari 2019

Learning Without Stress

Saya agak sedih ketika tahu konsep belajar di pikiran para orangtua mulai disalahartikan.
Ternyata masih banyak yang mengindentikkan antara belajar dengan dunia penuh tekanan dan penyebab utama stress pada anak.

Saya tak mau memakai bahasa psikologi yang rumit, tapi bercerita tentang anak saja ya.

Putri saya 'belajar' menjadi bilingual. Tepatnya usia 10 tahun baru mulai. Ia punya kecerdasan linguistik yang sudah saya deteksi sejak balita, tapi baru mulai di usia ketika saya anggap takkan menimbulkan sindrom bingung bahasa. Kemampuannya menyerap bahasa asing sudah terlihat sejak balita, bukan hanya bahasa Inggris, tapi juga dua bahasa lain Korea dan Mandarin bahkan Spanish. Hanya kesininya, saya minta dia fokus dua bahasa dulu.

Banyak yang menganggap membuat anak bicara dalam 2 bahasa adalah sebuah ambisi dari orangtua. Padahal, it's something fun for her. Seperti yang pernah putri saya bilang "It's just like a game for me!"

Ia menikmati saat-saat berbicara dengan saya atau Abang, hingga kami jadi punya quality time sekaligus memperkaya kosakata. Mungkin kalau dalam bahasa ibu saja, ia takkan terlalu bersemangat bicara seperti itu. Adek malah sering tak sadar menggunakan bahasa asing pada orang tak seharusnya karena kebiasaan, bukan karena tertekan. Sama seperti anak lain, yang nyaman memakai bahasa atau logat daerah. Buat Adek, atau saya, bahasa Inggris itu sama saja seperti bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Jawa, Sunda bahkan bahasa kasar yang mulai marak dipakai anak-anak.

Adek juga jadi lebih banyak berinteraksi karena banyak orang yang tertarik bicara dengannya, termasuk dengan orang asing yang menjadi rekan kerja Ayah atau Emak. Ia juga belajar dasar 'teaching' karena banyak orang yang spontan minta diajari. Teman-temannya lebih banyak karena mendekati anak berbahasa unik itu sesuatu yang menyenangkan.

Anak saya yang lain, Kakak. Juga dianggap aneh karena punya hobi belajar. Iya Bu Pak... Gak salah. Anak saya yang satu ini hobinya belajar.

Tapi apa ia tertekan?
Sama seperti Adek... Ia bilang, "Kakak gak tau lagi harus jelasin apa. Kakak bilang kakak itu suka belajar, gak ada yang percaya, Mak."

Kata Kakak, ia sebal karena sering dianggap pencitraanlah, sok rajinlah dan sebagainya. Jadi itu sebabnya ia memproteksi diri dengan tak banyak mengekspos.

Jangan tanya seberapa besar usaha saya membuatnya seperti anak-anak lain. Kami bahkan pernah bekerja sama dengan rumah sakit untuk menyembunyikan buku pelajaran waktu ia sakit 10 hari dan harus istirahat total, tapi ia masih bisa 'belajar' berkat kunjungan teman-temannya. Saya sampai dipanggil dokter dan akhirnya Kakak juga konsul psikiater. Tapi begitulah, Kakak hanya suka belajar.

Abang juga. Ia menyukai Marching Band dan mengaji. Sekali lagi saya dikritik karena terlalu memaksa anak berlatih keras, hingga tak ada libur weekend baginya. 5 hari sekolah, 2 hari latihan dan mengaji. Padahal, ketika saya minta ia sesekali untuk tidak latihan atau libur ngaji, itu membuatnya sangat sedih. Bayangkan, anak laki-laki ini yang tak pernah menangis ketika diomeli, justru menitikkan airmata saat dilarang latihan.

Menurut Abang, tidak mudah menjadi anak laki-laki satu-satunya di rumah dan ia juga ingin merasakan punya kakak. Nah, di tempatnya mengaji, ia punya banyak 'kakak'.

Ketiganya bisa menyukai dan menikmati hal-hal yang tak biasa karena saya memegang konsep 'Fun Learning'. Belajar sambil bersenang-senang.

Adek suka ngomong bahasa Inggris, karena kami bisa mengobrol tentang banyak hal sambil tertawa dan bercanda. Kakak suka belajar, karena ia bisa berdiskusi sambil bercanda dengan saya atau ayahnya. Abang suka latihan MB dan mengaji bareng, karena ia bisa bertemu dengan banyak teman dan ia suka berada diantara mereka.

Sementara untuk saya, seperti ibu lain, kadang terpancing emosi ketika mengajar anak. Karena itu, saya berubah taktik. Mengikuti cara alm. Nenek, seorang mantan guru, kepsek dan anggota DPR. Memilih konsep bermain sambil belajar. Bukan karena ingin cepat berhasil, tapi karena saya tak mau emosi. Dengan bermain bersama anak, saya menikmatinya juga kan?

Itu sebabnya saya mengunjungi swalayan untuk mengajari Adek kosakata Inggris, membuat Abang suka latihan, dengan mengamati orang (making fun with the mind games), menggunakan aneka mainan untuk mengajarkan konsep IPA dasar pada Kakak, memberi buku-buku berwarna bahkan grafik gambar untuk mereka. Bahkan demi membuka pengetahuan tentang tubuh manusia, ada gambar tengkorak beserta susunan organ lengkap di kamar anak-anak.

Saya juga membolehkan anak-anak menghias buku tulis mereka untuk memakai spidol atau pen aneka warna, menggambar, atau menulis di bagian belakang atau bagian kosong. Intinya kalau mereka Feel down or bored saat belajar, so just make fun. Bahkan, Kakak pernah membuat muka lucu tiba-tiba, hingga teman-temannya tertawa keras di jam pelajaran membosankan. Itu saya yang ajari.

Jangan kuatir diprotes guru, karena ketika saya jelasin konsep itu, mereka rata2 mengerti kok. Sejauh ini, di sekolah yang katanya tuntutan terlalu tinggi, malah guru-gurunya cukup kooperatif dengan cara belajar yang disesuaikan dengan anak ini.

Kalau kita menganggap belajar itu tekanan untuk anak, laah... Itu sama saja tak menikmati peran sebagai orangtua dong. Belajar itu dari lahir hingga ke liang lahat loh. Kalau konsep kita dari awal selalu negatif, ya gimana mau dapet hasil positif?

Yang perlu diperbaiki, mungkin tahap akhir saja. Selama anak have fun saat belajar, mau dia entar juara atau tidak, bisa atau tidak, tak perlu dipikirkan. It's just a result anyway. Ambisi beginilah yang harusnya ditekan.

Satu contoh misal ketika Abang di-scout oleh grup MB lain yang lebih besar, jaminan juara dan pasti lebih terkenal. Tapi saya serahkan keputusan pada Abang dan ia memilih menolak. Nah... Inilah saat saya menekan ego dan ambisi sebagai orangtua.

Begitu juga ketika Adek ngambek tak mau hadir di Semifinal Speech Competition atau audisi tv karena capek nunggu, dan ketika Kakak menolak ikut Olimpiade Fisika demi ikut acara jalan-jalan dengan eks teman SMPnya atau saat ia memilih jurusan yang bertentangan dengan pilihan saya atau Ayahnya.

Kalau ditanya dukanya, kami juga sering menghadapi dilema saat anak-anak menunjukkan perlawanan. Tapi balik lagi, proses learning-teaching ini harus tetap menyenangkan kedua pihak. Saya dan anakpun belajar menerima hasil akhir, pahit atau manis.

Buat saya, mau hasilnya gimana, yang penting anak sudah belajar. Suatu saat, hasil belajarnya pasti bermanfaat. Makin banyak yang ia serap, makin mudah ia melewati kesulitan hidupnya nanti.

Sudah cukup panjang saya cerita, tapi semoga akan jadi masukan yang baik untuk para orangtua. Please, nikmatilah peran Anda! Jadi orangtua itu menyenangkan hanya kalau kita menikmatinya.

28 Desember 2018

Let The World See!


Peluhku mulai membasahi punggung, bedak dan lipstick yang kupakai sebaik mungkin tadi pagi sudah tak lagi tersisa. Luntur karena AC mobil dimatikan sepanjang jalan, demi menghemat bahan bakar. Kami kuatir kehabisan, karena jarak tempuh yang kami perkirakan ternyata jauh lebih panjang dari rencana. Sepanjang jalan, kami tak melihat ada SPBU buka, bahkan kios mini penjual BBM tak lagi nampak. Dua dirigen minyak yang kami bawa, tadi terpaksa kami tinggal satu demi memenuhi kebutuhan para pengungsi. Sudahlah, tak penting terlihat cantik lagi sekarang. Yang penting bagaimana bisa membantu mengurangi tetesan airmata dan duka mereka.




Kami turunkan bantuan di beberapa tempat, dengan bantuan pengawalan seorang polisi. Polisi ini mantan teman sekelasku saat SMA yang kebetulan bertugas di daerah itu. Untungnya ia dan keluarganya selamat, karena tinggal di daerah pegunungan.




Di tempat pertama, aku melihat orang-orang itu. Mereka yang santai berfoto dan mengambil gambar tak peduli di tengah porak-poranda bangunan dan alam yang tak karuan lagi. Aku menegur beberapa kali dengan meminta mereka turut membantu. Tapi alih-alih membantu, setelah aku menoleh, mereka tiba-tiba menghilang dan menjauh. Rupanya mereka takut terlihat kusam dan kusut jika menyingsingkan lengan baju.




Di tempat kedua dan ketiga, aku tak melihat ada yang berfoto. Tapi banyak kulihat manusia yang berdiri, melipat tangan di dada dan memandang berkeliling. Temanku mendekat, bertanya apakah mereka sedang mencari saudara atau keluarga, mereka hanya menggeleng dan menjawab. Cuma lihat-lihat. Temanku yang lain menawari apakah mereka mau membantu mendirikan tenda terpal yang kami bawa untuk tambahan tidur bagi pengungsi, hanya satu dua yang mengiringi teman-temanku kemudian.




Di tempat keempat, sepatu flatku sudah berganti dengan boot kecil yang memang dibawa temanku. Sepatu kiriku tertanam di salah satu endapan lumpur sisa tsunami. Salahku membawa sepatu hadiah ulangtahun yang cantik itu di tengah-tengah sisa bencana begini. Harusnya kupakai saja sepatu boot yang biasa dipakai suamiku bekerja di tambang. Itu baru cocok. Sama seperti di tempat pertama, di sini banyak yang berfoto, terutama di areal yang paling jelas terlihat kacau. Malah ada yang sedang ber-snapgram. Iseng aku tanya, dan mereka santai menjawab. Untuk berita yang real.




Real? Aku ingin tertawa. Apa guna bejibun wartawan di tenda yang tengah mengumpulkan informasi susah payah berlari ke sana kemari mengejar sumber, bertanya, menulis dan mengetik laporan mereka dengan teliti? Bukannya foto atau video tanpa narasi sumber yang jelas bisa jadi masalah baru? Tapi siapa aku mengomentari sesuatu yang menurut mereka adalah hak? Apalagi saat kutanya mereka itu ternyata orang-orang yang tinggal tak jauh dari daerah bencana juga.




Aku tak biasa berjalan di tengah lumpur dan jalan atau jembatan darurat yang dibuat seadanya. Aku juga bertubuh gemuk, dan jalan kaki bukanlah olahraga yang kulakukan tiap hari. Tapi melihat keadaan orang-orang di sana, kekuatan itu muncul tanpa kuduga. Hawa berdebu yang menerpa wajahku sangat lengket dan tidak nyaman, sama sekali tak kupedulikan demi mengantar sekotak mie dan beberapa buah diapers pada satu keluarga. Kusebut keluarga karena mereka tinggal dalam satu tenda. Baru setelah aku duduk dan bertanya, ternyata mereka hanyalah orang-orang yang kebetulan tersisa dari beberapa keluarga yang tinggal dalam lingkungan yang sama. Tak berani aku bertanya, mereka yang berkisah. Begitu aku bilang, dulu ada ini dan itu karena daerah mereka itu tempatku dan anak-anak biasa bermain dan berlibur, curhat mereka keluar semua. Mereka menangis tanpa suara, aku sudah terisak-isak.




Di tempat terakhir ini, ada banyak tenda pengungsian. Bahkan banyak instansi yang membantu. Saat aku duduk sambil menyiapkan perlengkapan makan, ada wartawan mendekat. Wartawan berambut pirang. Kami pernah bertemu di sebuah acara keagamaan di Jakarta. Ia mengingatku, perempuan bermata sipit berjilbab yang bisa berbicara bahasanya dengan baik.




Saat itulah ia mulai bertanya, apa aku mau membantunya menjadi penerjemah dadakan. Kuiyakan. Karena kupikir, setelah makan tak ada lagi yang perlu kukerjakan. Aku juga tak suka mencuci piring dan kulihat rombonganku banyak yang foto-foto. Biar nanti mereka yang kusuruh. Buat apa kuajak jauh-jauh dari Jakarta ke sini?




Wartawan itu berhasil mewawancarai beberapa pengungsi, terutama ibu-ibu yang lebih banyak curhat. Wartawan itu sebenarnya mengerti bahasa cukup baik, jadi aku hanya membantu sesekali. Setelah selesai, kami berjalan beriringan dan ia mulai mengambil gambar. Saat itulah, ia melihat ada banyak orang berfoto. Ia bertanya padaku, bolehkah mereka seperti itu? Aku hanya mengangkat bahu sambil berjalan kembali ke tenda tempat rombongan kami beristirahat.




Saat kami duduk menyantap makan siang, mengisi perut seadanya. Aku membuka IG dan memperlihatkan padanya beberapa foto 'menarik' yang membuatnya tercengang. Kami tak bicara, hanya saling melemparkan tatapan saling mengerti. Foto-foto itu ia perhatikan sebelum dikembalikan padaku.




"Let the world see what is actually happened here," bisikku sebelum berdiri meninggalkannya.




Kuperbaharui status, dan mulai mengeluarkan isi hatiku. Singkat tapi padat. Sebuah ironi yang ingin kuberitahu pada orang-orang terdekatku, jangan sampai mereka kehilangan nuraninya karena terlalu sering menderita.




Aku juga mengambil foto, untuk melaporkan apa saja dan pada siapa saja kami berikan bantuan yang dititipkan orang-orang. Aku juga mengambil foto anggota rombongan yang ikut, agar terlihat siapa yang benar-benar membantu dan siapa yang sebenarnya hanya ingin berwisata bencana. Biar mereka anggap aku anti milenia, tak apa. Percuma update, kalau hati nurani tak punya. Sekalian saja mati. Itu sumpah serapah dalam hatiku untuk manusia-manusia itu.




Makanya biar dunia lihat. Biarkan semua orang tahu! It's a fact around us... Biar para remaja milenia kita sadar, itu perbuatan salah. Itu sangat salah. Itu artinya kita kehilangan empati. Ini bukan sekedar melihat pensil yang jatuh dan kita cuek saja. Ini tentang nyawa manusia. Ini tentang kehidupan seseorang yang mungkin berubah 360 derajat dan luka hati yang mungkin tak pernah sembuh. Hanya karena kita tak kenal, bukan berarti nyawa mereka tak berharga.




Maafkan aku, siapapun kamu atas sumpah serapahku itu. Aku saja marah. Apalagi mereka yang jadi korban. Kuharap kamu tak mengulanginya lagi. Kuharap kamu tahu cara meminta maaf.




Biarkan dunia melihat. Agar semua paham, terkenal di medsos tak selalu baik.













15 Oktober 2018

Kanker Menghancurkan Segalanya, Tapi...

Bulan Oktober adalah bulan peduli kanker payudara. Saya memang bukan penderita, tapi kanker sangat akrab dalam keluarga besar saya. Salah satunya kanker payudara. Beberapa diantara orang-orang terkasih yang dekat dengan saya pergi untuk selamanya karena kanker.

Perjuangan melawan penyakit ini yang dilalui orang-orang terkasih tidak hanya dirasakan para penderita, tapi keluarga. Itu artinya termasuk saya. Saya yang tadinya heran mengapa ada instalasi khusus keluarga penderita di salah satu rumah sakit rujukan kanker nasional, kini merasakan benar arti kehadiran instalasi itu sekarang.

Dalam satu kalimat, saat saya memulai kesaksian sebagai keluarga penderita, saya selalu mengatakan, “It destroyed everything in my life.” (Penyakit itu menghancurkan semua hal dalam hidup saya)

Tapi kemudian, saya meneruskannya dengan, “... but it made my life change so much. Much more better. Thousands time much better than before.” (... tapi penyakit itu sangat mengubah hidup saya. Jauh lebih baik. Ribuan kali lebih baik dari sebelumnya)

Seluruh kepercayaan saya terhadap banyak hal berubah drastis. Makna hubungan keluarga, makna uang dan harta, makna kebersamaan dan perasaan... berubah arah. Hancur dulu, karena saya baru tahu arti ditinggalkan, dibiarkan dan malah disakiti oleh anggota keluarga sendiri. Mereka, yang selama ini pernah begitu dekat, pernah menjadi bagian hubungan yang indah ternyata menjauh satu persatu saat kami sedang membutuhkan bantuan.

Tapi di sisi lain, waktu mengobati luka itu dengan menghadirkan orang-orang yang jauh lebih baik. Cara kami sekeluarga memandang hidup juga berubah. Pun cara kami menghadapi masalah. Tanpa sadar, kami memfilter kehidupan ke arah yang lebih baik, dengan orang-orang yang juga jauh lebih baik.

Kanker memang penyakit dengan ujian terberat karena kepastian kesembuhan sangat langka. Belum lagi akibat proses penyembuhannya yang justru mendatangkan penyakit lain. Seperti makan buah simalakama, dimakan salah, tak dimakan makin salah.

Saya melihat perjuangan orang-orang yang saya sayangi dengan airmata tanpa suara. Menangis diam-diam, menyembunyikan sakit di hati diam-diam. Belum perubahan emosi yang juga dialami penderita. Mereka berubah, mereka berganti menjadi sosok yang lain. Dan satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mengerti dan menahan diri.

Melalui semua itu seperti berjalan di atas seuntai rambut. Waktu menjadi sangat berharga meski singkat, ketika senyum sang penderita muncul sesaat. Tapi waktu menjadi begitu panjang, ketika rasa sakit dan masa-masa pengobatan yang sulit harus dilalui. Disitulah kami memahami bahwa menggunakan waktu sebaik-baiknya adalah hal terbaik dari semua hal yang kami lalui saat itu.

Tak ada seorang dokterpun yang mampu memberi jawaban pasti mengenai obatnya kanker. Tapi kesamaan mereka adalah menyebutkan satu kata yaitu ‘BAHAGIA’. Semakin dalam rasa sakit, depresi dan kesedihan, justru kanker makin sulit disembuhkan. Makin pasien bahagia, makin besar kemungkinan ia sembuh dengan ajaib. Sebuah keputusan sulitpun saya ambil, demi membuat orang terkasih kami bahagia, meski itu artinya kami harus menjauh darinya.

Sejujurnya melihat orang-orang terkasih dalam keadaan sakit dan penuh penderitaan, sakit yang lebih besar dirasakan oleh hati keluarganya. Bahkan orang terkuat sekalipun, akan terpuruk di periode awal saat proses pengobatan dimulai. Membayangkan itu semua, membuat saya kembali menitikkan airmata.

Semua jenis ujian mental dunia ada saat kita mendampingi para penderita kanker. Semua rasa ada di situ. Tapi di sisi yang menyenangkan, senyum kecil sang penderita terasa bagai bayaran yang sepadan untuk semua kesedihan yang kita rasakan. Selama masih ada kekuatan untuk melawan, menyerah bukanlah jawaban.

Ketika akhirnya perjuangan itu harus berakhir, berat memang harus berpisah untuk selamanya. Tapi... setidaknya kita puas telah melakukan segalanya untuk memperjuangkan hidup lebih lama bagi sang penderita. Sehari lebih lama, sebulan lebih lama, dan mungkin saja bertahun-tahun lebih lama. Melepaskan orang terkasih pergi dengan ikhlas, setidaknya membebaskan mereka dari rasa sakit luar biasa itu.

Panjang pendeknya umur tak bisa ditentukan siapapun. Meski di drama-drama kita sering melihat dokter memprediksi usia pasien, terutama pasien kanker, hal itu tidak terjadi di dunia nyata. Mana ada dokter yang mau memprediksi sesuatu yang tak mungkin diketahui siapapun. Jadi jangan pernah menanyakannya. Dokter mungkin kekuatan ilmiah yang ada di dunia, tapi kemampuannya juga terbatas. Ada kekuatan jauh lebih besar dari itu, dan itu adalah kekuatan Allah SWT. Dalam sekejap, kekuatanNya bisa membolak-balikkan keadaan. Bukan tak mungkin, justru dokter yang merawat kita pergi lebih dahulu dari pasien itu sendiri.

Kanker memang menghancurkan hidup saya, hidup keluarga saya. Hidup kami yang dulunya memandang dunia dengan cara berbeda. Tapi penyakit ini mengubah hidup saya, juga keluarga saya. Saya hidup untuk bahagia, menikmati setiap detik agar lebih bermakna, membuat sebanyak-banyaknya kenangan dan kesempatan bersama keluarga, agar suatu ketika saat semua harus dikembalikan kepada Yang Kuasa, setidaknya tak ada penyesalan.

Jika ditanya apa itu bahagia?


Jawaban saya, bahagia itu adalah dengan cara kita hidup untuk hari ini, untuk selamanya dan untuk nanti.

Untuk hidup hari ini, lakukan segala hal yang bisa dilakukan, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Jika ada satu celah atau kesempatan untuk berbuat baik, sekecil apapun, langsung lakukan. Tak perlu berpikir terlalu panjang, apalagi memikirkan bayaran sepadan atau tidak, dibalas atau tidak. Lakukan saja selama itu untuk membantu dalam kebaikan. Toh melakukan kebaikan, juga membuat hati kita senang kok. Ya kan?

Tapi jalani juga hidup dengan berpikir bahwa hidup untuk selamanya. Jaga kesehatan, agar hidup lama itu dijalani dengan sehat. Jika punya potensi kanker, ubah gaya hidup dan jalanilah tes kesehatan lebih sering. Memang mahal, tapi itu investasi kehidupan.

Demi hidup lama sampai nanti itu pula, kumpulkanlah dan jagalah hubungan dengan teman-teman serta keluarga yang memang baik dan membawa kebaikan. Jika menjauh adalah hal terbaik, lakukan saja. Jangan memaksakan diri. Nikmati kebersamaan dengan siapapun, termasuk keluarga dan teman-teman dengan cara terbaik. Karena hubungan baik adalah kunci untuk menjaga kebahagiaan di hati.

Terakhir adalah, berpikir positif dan mendekatlah pada Sang Maha Penentu Nasib.

Satu hal ini yang menguatkan kami saat itu. Begitu banyak keluarga pasien yang kondisinya jauh lebih parah kami temui saat itu, dan mereka semua melakukan hal yang sama, menyemangati dan menguatkan hati kami dengan semua hal positif. Mengajari untuk makin dekat pada Allah SWT, mengajak menuju ketenangan. Ketakutan dan kekuatiran saat memasuki rumah sakit kanker nasional saat itu berubah menjadi rasa syukur karena bisa bertemu manusia-manusia berjiwa hebat di dalamnya. Sampai detik ini.

“Yes... Cancer destroys everything, but now we can see everything differently.”



[caption id="attachment_1675" align="aligncenter" width="300"] Masa-masa penantian kami sekeluarga di sebuah rumah sakit kanker nasional di Jakarta tahun 2012[/caption]





11 Oktober 2018

Kunjungan Wisata Ke Kampoeng Wisata Cinangneng

Perjalanan edukasi Adek dan saya kali ini adalah sebuah tempat wisata di kawasan Bogor. Tempat wisata ini merupakan sebuah kampung atau desa yang terintegrasi menjadi wadah edukasi sekaligus hiburan dan wisata.

Ketika masuk kita telah disambut dengan udara sejuk khas desa dan hamparan taman-taman hijau yang menyejukkan mata. Sebelum masuk, ada pengaturan rombongan. Adek dan teman-temannya masuk lebih dulu bersama para ‘teteh’[1] yang akan menjadi guide mereka sesuai paket wisata yang dipilih. Sedangkan orangtua dan guru yang mendampingi masuk setelah mendapatkan kalung kecil yang nanti bisa ditukarkan dengan makan malam.

Setelah masuk, Adek dan rombongan dibawa ke hall besar di mana sudah menanti para Teteh dan Mamang[2] yang memainkan gendang. Ini adalah awal dari tur edukasinya. Anak-anak diajarkan cara memainkan angklung, yaitu alat musik khas Sunda, Jawa Barat yang kebetulan adalah suku asal Ayah. Setiap anak memegang angklung dengan nada yang berbeda, dan Adek memegang angklung nada kelima atau ‘sol’.

Setelah itu, mereka juga diajarkan cara menyanyi lagu dalam bahasa Sunda. Sayangnya, beberapa anak-anak belum bisa membaca dengan lancar sehingga mereka sedikit bingung ketika mendengar si Teteh menuntun mereka menyanyi. Tapi namanya juga anak-anak, walaupun komat-kamit sembarangan, nada lagu riang berhasil memancing mereka untuk bergembira. Bahkan orangtua pendamping pun ikut-ikutan berjoget mengikuti irama khas Sunda yang riang itu.

Kemudian, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok berisi sekitar 10 anak didampingi seorang Teteh. Awalnya Adek dan teman-temannya dalam kelompok lima menuju ruang alat-alat musik khas Sunda. Adek mendapat alat seperti gamelan. Teteh pun mengajari dua nada sederhana untuk dimainkan. Sayangnya.... si Teteh seperti tak memahami cara baca not dan dia mengucapkan ‘lima satu lima, dua satu dua’ padahal Adek serta teman-temannya telah terbiasa membaca not angka kelima, kesatu dan kedua dengan ‘sol, do, re’ . Walaupun awalnya bingung, mereka dengan mudah mengikutinya. Apalagi karena Adek sudah biasa memainkan alat musik serupa dalam grup Marching Bandnya.

[caption id="" align="aligncenter" width="470"] Belajar memainkan alat musik (gamelan)[/caption]

Setelah selesai bermain musik diiringi gendang Mamang dan mengucapkan terimakasih dalam bahasa Sunda, anak-anak kembali ke hall yang tadi dan belajar menari khas Sunda. Hehe... anak-anak termasuk Adek kelihatan lucu waktu mengikuti seorang penari Jaipongan. Bukannya menari beberapa anak cowok malah sengaja menyenggol temannya. Tapi Adek dan teman-teman perempuannya mengikuti si Teteh Penari dengan baik.

[caption id="" align="aligncenter" width="706"] Belajar menari[/caption]

Selesai menari, anak-anak digiring menuju sebuah gazebo kecil dan di sana, mereka diajari cara membuat boneka dari batang dan daun singkong. Ini membuat saya tersenyum simpul. Dulu, batang dan daun singkong menjadi mainan saya tiap hari. Mulai dari sekedar bermain masak-masakan, sampai membuat aneka mainan dari batangnya yang sudah dijemur. Tapi sekarang... mungkin hanya beberapa anak yang ada dalam rombongan mengenal batang dan daun singkong. Saking sayangnya sama boneka buatan itu, Adek bahkan memaksa saya memasukkannya ke dalam bawaan. {>_<}

[caption id="" align="aligncenter" width="684"] Membuat boneka dari daun dan batang singkong[/caption]

Dengan boneka buatan, Adek dan teman-teman berpindah ke tempat lain. Di tempat berikutnya, mereka diminta untuk melukis caping. Pertama disuruh menulis nama mereka masing-masing, lalu melukisnya dengan berbagai hal yang mereka sukai. Pada kesempatan itu, Para mama dari teman-teman Adek pun bereksplorasi dengan membaca hasil lukisan putra-putri mereka melalui saya. Ada yang bertanya mengapa anaknya suka melukis semua hal yang bermesin, mengapa lukisannya selalu berwarna merah, mengapa kalau melukis lama sekali dan jadilah ‘ruang konsultasi’ berpindah ke tempat itu sementara anak-anak terus melukis. Daripada berkumpul menggosip hal tak berguna, bukankah lebih baik membicarakan karakter anak?

[caption id="" align="aligncenter" width="470"] Membuat kue[/caption]

Caping yang telah selesai dilukis pun dijemur, sementara menunggu lukisan kering, anak-anak pun dibawa ke ruang khusus untuk memasak. Di situ, anak-anak diajari cara membuat kue Bugis dan minuman wedang jahe. Lagi-lagi, saya membiarkan Adek mencicipi wedang jahe yang langsung membuat kening dan wajahnya berkerut masam. Minuman itupun berpindah ke saya, yang memang sangat ingin mencoba dan rasanya sedap kok.

Selesai melukis, anak-anak mulai terlihat bosan berputar-putar. Para Mama dan Ayah juga kelelahan. Karena itu, kami diajak ke cafe dan restoran yang sudah menyediakan makan siang kami. Anak-anak mendapat jatah makan dibantu para Teteh dan Aa, sementara orangtua pendamping dan guru harus menukarkan kalung kecilnya sebelum mendapatkan piring bambu berisi makanan khas Sunda seperti nasi putih, tahu goreng, ikan asin, ayam bakar, dan sayur asem. Ada buah semangka dan air mineral sebagai pelengkap menu.

Setelah sholat dan beristirahat, tiba saatnya untuk melancarkan pencernaan alias jalan-jalan. Kami berkeliling kampung, melewati jembatan, mengenal padi dan hama, lalu mengunjungi para pengrajin home industri seperti keset, tas dan pernak-pernik untuk oleh-oleh. Walaupun sedikit terjal dan harus ekstra hati-hati, tapi suasana kampung Sunda yang khas begitu terasa saat kami berkeliling. Tidak lama, karena hanya beberapa putaran.

Usai berjalan-jalan, anak-anak diajari cara menanam padi di sawah. Ah, ini teguran lagi deh buat para saya yang sering menganggap kotor itu tidak baik. Rata-rata anak-anak ketakutan saat kaki-kaki mereka harus menginjak sawah yang berlumpur. Untungnya Adek yang memang jarang dilarang (dan memang susah dilarang!^_^) tidak menunjukkan rasa jijiknya sama sekali. Malah dengan senang ia menginjak-injak lumpur yang terasa licin itu,  sambil menggoda teman-temannya yang ‘berhih hih!’

[caption id="" align="aligncenter" width="501"] Menanam padi[/caption]

Dan terakhir, kegiatan anak ditutup dengan bermain di sungai sambil memandikan seekor kerbau. Tapi anak-anak bukannya menyiram kerbau, mereka malah menyiram dirinya atau teman-temannya sendiri, saling bercanda dan menggoda. Jangan kuatir soal arus sungai yang memang sedikit deras, karena ada banyak Mamang-mamang yang menjaga anak-anak di sekeliling mereka. Setiap kali terlihat sesuatu yang mungkin berbahaya, para Mamang akan membantu dan memperingatkan anak-anak. Lagipula, para Mama dan Ayah juga tidak dilarang kalau mau ikut mendampingi putra-putrinya saat turun ke sungai.

Maka setelah itu, semua paket wisata pun berakhir. Anak-anak harus mandi dan berganti pakaian bersih. Sebelum pulang, anak-anak kembali dikumpulkan dan berpamitan pada para Teteh yang begitu telaten mendampingi mereka. Sebelum pulang, mereka mendapatkan caping yang telah dilukis tadi. Beberapa orangtua memutuskan untuk beristirahat sejenak di Cafe sekaligus membeli oleh-oleh khas Sunda untuk dibawa pulang. Yang lain memilih untuk berfoto. Adek meminta dibelikan sebuah pensil dan saya memilih membeli secangkir Wedang Jahe buatan. Setelah itu kami sempat berfoto sebelum kembali ke dalam bis rombongan.

Review saya :


Tempat ini memang cocok untuk keluarga, dan paketnya cukup memuaskan hati anak-anak. Biayanya juga terjangkau untuk hiburan selama satu hari. Dari pertanyaan yang saya ajukan pada salah satu Teteh, di sana ada tempat penginapan jika wisatawan ingin menginap. Untuk biaya mulai Rp. 500ribu. Lokasinya tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman dan ada fasilitas kolam renang juga. Hanya saja, kawasan ini lebih cocok untuk mereka yang menyukai ketenangan, kesejukan alam dan keromantisan seperti Ayah. Tidak ada kegiatan menantang yang biasanya menjadi syarat utama saya dan anak-anak yang lebih besar.
































Nilai untuk tempat ini : 0 – 10 adalah 8
SUASANAsesuai dengan yang dibayangkan, sejuk, tenang dan indah2
MAKANANSederhana, tapi enak dan murah2
BIAYATerjangkau jika rombongan, tapi lumayan mahal untuk biaya menginap1
FITURKegiatannya beragam, sayangnya tak ada yang menantang1
FASILITASToilet, musholla, kolam renang, guest house, cafe, restoran, toko oleh-oleh semua ada2

Ingin tahu lebih banyak? Kunjungi saja website resminya di Kampoeng Wisata Cinangneng



[1] Teteh : Kakak perempuan (bahasa Sunda)

[2]  Mamang : Paman/Lelaki yang lebih tua (bahasa Sunda)

21 Juni 2018

Pengen Istri Jadi Penurut?

Bingung ketika ada yang meminta menulis dengan tema ‘kekerasan dalam rumah tangga’. Tentu harus ada contoh, tapi siapa?? Akhirnya malah ganti tema, jadi rahasia di balik istri penurut.

Padahal banyaaak banget contoh kekerasan rumah tangga di sekitar Emak. Para pelakunya banyak yang gak sadar kalo itu sudah tergolong pelecehan dan kekerasan dalam rumah tangga. Tapi kalo Emak buka kan namanya bikin dosa ngegosip. Bener sih, tapi kan aib orang. Padahal sebagai muslim, kita diwajibkan menjaga aib baik diri sendiri maupun orang lain.

Baru juga kita maaf-maafan…

Tapi mau beri contoh, entar disangka pamer lagi. Sekarang jagat dunia maya lagi sensi sama urusan pamer. Apa-apa diprotes. Dianggap pamer. Lah ini medsos ya? Media sosial itu sebenarnya kan kepanjangan lain dari media pamer. But sutralah, skip for that now, different theme. Take the risk deh!

Oke, Emak ceritain dengan nada pamer dulu ya. Tapi baca dulu deh... mau tahu gimana caranya ngubah istri jadi penurut kan?

Salam kenal dulu dengan Emak buat yang baru jadi teman, salam kangen buat teman-teman lama. Yang udah lama kenal pasti tahu teman mereka yang satu ini adalah anak Papanya yang manja dan dibesarkan bagai porselen cina, yang kalo minta izin maen keluar sudah susah eh pake dibuntutin segala kalo yang ngajaknya menor-menor (Upss!), yang sampe gurunya nulis di raport supaya bisa dikasih kebebasan dikiiit aja buat ekspresi diri karena gak pernah boleh ikut kegiatan apapun di luar sekolah, yang pas nginep untuk camping malah ujung-ujungnya nginep di mobil Papa karena (katanya) banyak nyamuk nanti sakit.

Ok, intinya sih jangan tanya lagilah ukuran keras kepala dan manjanya si Emak ini. Tapi, Emak sendiri takjub, kok ya mau-maunya patuh sama suami? Suami pendiam, jarang komen dan jarang bicara itu loh.

Tau gak alasannya? Karena Ayah gak pernah satu kalipun menyentak, membentak, memukul bahkan bersuara keras di depan Emak. Ia tahu semua itu percuma, karena karakter Emak itu keras. Makin dikerasi, ya makin keras. Dimarahi, ya malah balik marah.

Memang pernah Ayah yang suka bercanda itu menggunakan candaan yang menyakitkan hati. Emak gak suka dengernya, ya udah tinggal ngomong. Baik-baik negurnya. Sejak itu Ayah gak pernah membahasnya lagi. Makin ke sini, Emak cukup melotot saja, Ayah udah ngerti kalo Emak gak suka. Ayah juga sama. Negur kalo nada canda itu mulai gak sehat.

Nah istri yang diperlakukan sebegini manis, mau dianya dulu sekeras batu pun ya pasti berubah lah. Emak jadi terikut gaya Ayah. Negur anak-anak ya meski tegas, tapi pelan. Gak pake ngomel lama, tapi langsung ke intinya. Marahnya karena apa, dan apa yang harus dilakukan anak-anak serta konsekuensinya kalo mereka tetap ngelakuin. Wes gitu aja.

Makanya, jangan ngeluh kalo istri kok kepala batu, suka ngomel, gak menurut, jahat sama anak, suka mukulin anak, dan sebagainya. Cek deh cara dia diperlakukan suami. Jangan-jangan selama ini sang istri dikenyangi oleh bentakan, sindiran melecehkan, bahkan suara keras meski maksudnya bercanda.

Ini yang masih sering dilupakan para pasangan. Baik istri maupun suami. Pelecehan itu rupanya sangat banyak loh. Memarahi istri dan suami di depan umum, mempermalukannya dengan candaan menyakitkan, menilai penampilan dengan hinaan frontal, meminta dengan cara perintah memaksa (termasuk saat berhubungan badan), berbicara dengan nada keras, mencubit/memukul/menepuk tubuh hingga membuat tidak nyaman dan sebagainya. Pokoknya yang menimbulkan ketidaksukaan bisa dianggap sebagai pelecehan, meski pada pasangan sendiri. Oh satu lagi hampir lupa, mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu. Sumpah deh, ini bener-bener paling nyakitin!

Tapi ya jangan pasrah aja nerima kalau justru digituin. Katakan terus terang kalo tak nyaman dengan perlakuan seperti itu. Kalo dibiarkan ya gak bakal berhenti sampai maut atau KUA memisahkan.



Trus Emak sendiri kalo masalah dimanja, ya dulu sama orangtua, sekarang mah sama suami. Itu karena kata Ayah, “I couldn’t buy everything like your parents did, but I can do everything for you as much as you want.”

Naah, para suami nih, coba dicek lagi... bagaimana kehidupan istri di masa lalu? Wajar kalo istri protes, ketika dulu ia dibesarkan bagai putri kerajaan, eh tetiba diubah sang suami jadi upik abu plus plus.

Kalo gak bisa memberikan kehidupan yang sama dengan saat ia dibesarkan dulu, sewajarnya ganti dengan perlakuan yang senilai untuk itu. Cinta itu sangaaat luas prakteknya, jadi jelas kesempatannya pun jauh lebih besar.

Tapi untuk yang satu ini, maaf ya… Emak gak bisa ngasih contoh. Aib ini mah. Hahaha… Aib banget. Pokoknya, manjanya Emak itu level 30 kalo diukur pake pedasnya boncabe. Super duper manja. Dan Ayah mengimbangi dengan melakukan banyak hal untuk Emak.

Timbal balik ke Ayah apa? Ya ada doong.

B.A.N.Y.A.K

Seimbang dengan cara berbeda. Emak pernah loh ikhlas biarin Ayah menikah lagi, selagi kami dulu sempat nunggu anak gak kunjung hadir. Dulu tapi ini ya… dulu banget! Sekarang anak kami banyak, pake banget. Jadi gak ada peluang buat siapapun di sini.

Kesininya, Emak malah sering nyuruh Ayah ikutan jalan-jalan dengan rekan-rekannya, mau keluar negeri, mau sekedar nongkrong, mau mancing atau sekedar ketemuan saja. Boleh banget, selama Emak tahu gak ada perempuan binal ikutan.

Gak kuatir, Mak?

Enggaklah! Wong mantan sekretaris ini anaknya Pak Polisi. Jelas keahlian dan pengalamannya menjadi tameng bagus meski tanpa ikut sang suami.

Emak juga rela kalo sesekali pecahin celengan demi membuat Ayah senang. Tau kan kalo uang istri artinya uang istri, uang suami adalah uang istri? Itu artinya tabungan Emak lebih gendut dari milik Ayah. Kedobel sama pemberian suami dan pendapatan diri sendiri. Bahkan rasanya itu ya... Emak sangat seneng nyediain apapun untuk Ayah, dibandingkan manjain diri sendiri. Berasa egois malah.

Tapi kata Ayah, hadiah paling menyenangkan buat Ayah, ya itu tadi… istrinya ini sangat patuh padanya. Meski kadang-kadang ada juga sih ngelawannya, tapi biasanya Emak memilih diskusi dulu. Lagian, semua perintah Ayah itu kebanyakan demi kebaikan Emak kok. Kayak gak boleh makan tape Cirebon yang enak itu (Hiks!! My GERD penyebabnya) atau saat nyuruh nerusin S2 lagi.
Jadi, rumah tangga itu adalah sebuah hubungan timbal balik. Tanggung jawab bersama, dilakukan bersama, untuk kepentingan bersama.

Mulailah melihat dari sudut pandang pasangan, jika merasa hubungan rumah tangga mulai tak sehat. Jangan-jangan kesalahan bukan pada pasangan kita, tapi justru kita sendiri.

Ada banyak sekali gangguan yang mungkin hadir di antara pasangan, misalnya saja ponsel. Ayah aja masih sering nih negur Emak karena urusan yang satu ini, meski Ayah juga sering melakukannya dan kami akhirnya sampe harus membuat kesepakatan.

Yang kedua adalah kehadiran orang ketiga. Orang ketiga itu gak hanya selingkuhan loh. Bisa saja itu anggota keluarga lain. Entah itu saudara ipar, bapak ibu mertua, tetangga yang hobi adu domba bahkan anak!

Orang terakhir inilah yang sering jadi bahan debat Emak dan Ayah. Ayah yang ternyata 11 12 dengan Papanya Emak dulu VS Emak yang ngerasain dikungkung orangtua.

Yang ketiga adalah karakter, kebiasaan dan tingkah laku masing-masing. Ini jurang terdalam yang harus diatasi sepanjang masa pernikahan. Syukur-syukur kalo bisa saling menyesuaikan dan mengubah sifat buruk, tapi kalau tidak?

Mungkin bisa seperti Ayah dan Emak. Saling menerima dan justru menganggap sifat buruk itu sebagai keunikan.

Minta contohnya?

Mmm… Emak itu paling males mandi, apalagi kalo lagi libur kerja dan kuliah. Maklum turunan Korea, mandi cuma sekali sehari. #Alasan. Dulu sering banget diprotes Ayah. Tapi lama kelamaan, malah jadi bahan candaan aja. Ayah seperti pasrah nerima kelakuan Emak, malah kalo mandi tanpa diingetin, suka kaget. “Eh, Emak kesambet jin mana tumben rajin mandi?” See?

Dan kebiasaan Ayah yang engga Emak suka adalah makan makanan berlemak. Ayah tuh punya penyakit kolesterol, darah tinggi dan asam urat. Kombinasi komplit yang bikin Ayah bisa masuk rumah sakit dalam hitungan jam setelah makan. Itu sebabnya dulu saat kami sempat berumah tangga LDR, Ayah dirawat 3 kali di rumah sakit dalam setahun.

Lama lama, Emak nyerah ngelarang, tapi gak pernah lelah mengingatkan. Toh, Ayah juga mulai perhatian pada dirinya sendiri. Kalo Ayah makan, Emak memastikan ada obat dan makanan penetral yang tersedia. Kebiasaan Emak ini mulai menulari anak-anak juga. Kalo Emak gak ada di rumah, merekalah yang jadi satpam menu Ayah.
Intinya sebelum dicintai, belajarlah mencintai dulu

Jadi, pengen punya istri penurut, sebenarnya gampang kok. Dimulai dari diri sendiri dulu, Hanya memang disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan masing-masing pasangan. Tak ada hubungan yang benar-benar sama. Emak hanya bisa memberi contoh, tapi bukan berarti cara yang sama bisa dipraktekin dalam hubungan pasangan lain. Tapi bersabarlah jika hal itu dirasa berat. Allah gak tidur, Allah sayang pada hambaNya yang selalu berjalan dijalanNya. Karena itu, tujukan pernikahan ke arah kebahagiaan dunia akhirat, bukan demi ego semata. Semoga Allah SWT selalu menjadikan kita sebagai bagian dari keluarga yang sakinah ma waddah wa rohmah. Aamiin.





Rumah tangga adalah…

Aku adalah dia, dia adalah aku

Ia pakaianku, aku perhiasannya

Hatiku miliknya, hatinya milikku

Tapi…

Kepala kami masing-masing

Wajah kami selamanya tak serupa

Keinginan kami tak selalu sama

Karenanya…

Tatapan kami ke arah yang sama

Tangan bertaut saling menjaga

Langkah berjalan kompak agar tak goyah

Sembari memegang tonggak yang sama

Agar sakinah mawaddah wa rohmah,

Bukan sekedar doa.

21 April 2018

Anak Tak Pernah Mendengar, Mereka Meniru!

"Mak, Kakak boleh ambil teknik pertambangan gak?"

Benak saya langsung dipenuhi  sosok-sosok wanita perkasa yang pernah saya kenal saat bekerja di daerah tambang dulu. Meski job description kami berbeda, tapi melihat para pekerja tambang adalah hal yang biasa, termasuk para wanita yang saat saya bekerja di sana dulu masih bisa dihitung jari.

Tapi ada salah satu perempuan berkulit gelap yang saya kenal baik. Lulusan teknik pertambangan. Kami cukup akrab, saling kenal dan sering curhat satu sama lain ketika masih sama-sama belum menikah. Jelas saya tahu sedikit soal pekerjaannya.

Jadi ketika Kakak meminta izin seperti itu, hati saya langsung berdebum jatuh ke bawah. Hanya satu kata menggambarkan jurusan yang ia inginkan itu. Pekerjaan itu berat bagi seorang perempuan.

Hanya saja, Kakak sempat mengalami kesulitan menemukan jurusan yang ia benar-benar inginkan. Aneh kedengarannya, tapi itulah yang terjadi. Meski sejak ia bersekolah, ia selalu masuk dalam jajaran siswa berprestasi, Kakak justru bingung memilih.

Semua pelajaran sama di matanya kecuali dua mata pelajaran saja, Bahasa Inggris dan Sejarah. Hanya itu. Namun seburuk-buruknya nilai atas dua pelajaran itu, ia masih bisa berbicara dan memahami saya yang bilingual.

Di hampir semua mata pelajaran itu pula, ia pernah meraih nilai sempurna beberapa kali. Kalaupun terjadi perubahan, penyebab utamanya justru pada pengajarnya.

[caption id="" align="aligncenter" width="477"] Koleksi pribadi iinajid.com[/caption]

Kakak memang termasuk anak yang rajin. Bahkan buku catatannya selalu jadi incaran teman-temannya di sekolah sebagai bahan fotokopian. Tulisannya rapi dan hampir tak pernah melupakan tugas serta PRnya. Malah saya yang kadang sering membujuknya untuk sesekali menjadi murid yang 'melenceng'.

Saya sudah beberapa kali memberi bayangan tentang beberapa pekerjaan yang saya atau ayahnya pernah jalani. Kami berharap, mendengarnya akan membuka pandangan Kakak tentang pilihan karir yang dimulai dari memilih jurusan saat ia kuliah nanti. Tapi semakin ia tahu, justru yang kami lihat Kakak semakin bingung.

Sebenarnya Kakak sudah tahu kalau ia membuat kesalahan. Saat SMP, saya dan ayahnya sudah mendesaknya untuk mengambil jurusan IPS. Alasannya karena semua hasil psikotes dengan para psikiater dan psikolog yang beberapa kali kami lakukan pada Kakak sejak ia usia balita, menunjukkan kecenderungannya pada pekerjaan-pekerjaan di bidang ekonomi, psikologi dan sosial masyarakat. Keyakinan kami bertambah juga ketika melihat caranya berinteraksi selama ini. Sebagai orangtuanya, jelas kami tahu benar sifat dan karakter putri kami yang satu ini.

Kakak itu humoris, penghidup suasana yang gampang sekali akrab dengan orang lain. Tapi di sisi lain, meski bercanda, semua omongan Kakak ada benarnya dari sudut pandang yang serius sekalipun. Ia pandai mengenal kepribadian seseorang, termasuk teman-temannya hingga bisa menyesuaikan diri dengan baik meski dengan teman yang memiliki masalah kepribadian (introvert, pemarah dsbnya)

Tapi karena Kakak termasuk juara kelas di SMPnya, dan guru-guru banyak yang menyarankan memilih IPA, ia memilih jurusan IPA. Ini yang sangat saya sayangkan dari guru-guru Kakak, termasuk salah satunya sangat dihormati Kakak. Guru itu sampai setengah memaksa. Saya sempat kecewa, tapi akhirnya membiarkan karena kami kuatir, jika memaksa justru akan menimbulkan masalah lain.

Meski begitu, nilai-nilai Kakak tetap cemerlang. Untuk anak yang memilih tidak ikut les tambahan apapun, bahkan sibuk dengan hobi dan kegiatan di luar sekolahnya, Kakak tetap berhasil mempertahankan prestasi yang bagus.

Hanya, ia selalu mengalami kebimbangan.

Ketika nilai-nilai Matematika, Fisika dan Biologinya meningkat tajam dan bertahan di posisi nilai yang sangat bagus, saya sempat memberi beberapa opsi jurusan dan salah satu sekolah tinggi kedinasan. Tapi Kakak menolak. Saat mendengar daftar pekerjaan yang memungkinkan dari jurusan-jurusan tersebut, Kakak langsung menggeleng.

Makanya, ketika ia akhirnya menyebutkan satu jurusan, saya sangat bersyukur. Akhirnya.... ia bisa menentukan pilihan. Meski buat saya itu bukan bidang pekerjaan yang saya bayangkan.

Tapi, saya tak mengatakan tidak. Tidak akan pernah.

Sama seperti dulu saat ia memilih jurusan IPA dan akhirnya kami membiarkan, kali ini jawaban saya pun sama...

"Yakinkan Emak, Nak! Alasan yang membuatmu memilih jurusan itu. Kalau Kakak bisa jelasin semua itu, Insha Allah Emak izinkan dan akan bicara dengan Ayah."

Kakak menjelaskan panjang lebar, membuat saya terdiam. Ternyata saya dan suamilah yang menjadi penyebab Kakak memilih jurusan itu.

Iya, saya. Juga Ayahnya. Kami berdua.

Sejak kecil, saya sering bercerita pada anak-anak saat masih bekerja dulu. Pengalaman-pengalaman menarik dalam hidup saya, yang sebagian besar mengubah karakter saya. Pengalaman tercebur di water intake project saat survey. Naik ke gedung-gedung tinggi demi melihat progress project, menjadi saksi peristiwa penting di perusahaan, berurusan dengan  pejabat pemerintah, naik pesawat kecil hingga helikopter berpenumpang 2 orang, menyeberangi berbagai lautan hingga ke luar negeri. Lalu setengah pamer, saya pernah memperlihatkan beberapa tempat saya bekerja yang memiliki pantai pribadi, kolam renang dan pemandian air panas, beserta berbagai fasilitas lain yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya.

[caption id="" align="aligncenter" width="381"] Koleksi Pribadi iinajid.com[/caption]

Tak hanya dari sisi menyenangkan saya ceritakan. Saya juga cerita bagaimana sulitnya masuk ke daerah tambang. Perjalanan belasan jam hingga terpaksa menginap di tengah hutan, menunggu jalan agak kering setelah berubah jadi rawa lumpur karena hujan deras. Termasuk juga tatapan remeh kaum lelaki yang menjadi rekan kerja. Ayahnya pun sama. Ia menceritakan bagaimana perasaannya saat pertama kali mendarat di rimba Kalimantan dulu, juga pengalaman hampir mati ketika pesawat yang ia tumpangi harus mendarat darurat di Banjarmasin karena mesin mati. Bahkan termasuk pengalaman saat melihat sekumpulan ular besar memenuhi pipa air di salah satu resort, tempat saya bekerja hanya dalam hitungan bulan.

Ternyata, itu semua menarik minat Kakak. Hidup penuh tantangan yang pernah dijalani Emak dan Ayahnya dianggapnya sebagai sesuatu yang juga seharusnya ia lewati. Meski tak persis sama, karena ia tak mau menjadi sekretaris atau aspri seperti saya. Tapi ia suka mendengar cerita kami tentang dunia pertambangan.

Saya memutuskan untuk menerima keputusan Kakak. Meski masih berharap ia mengubahnya. Tak ada orangtua manapun yang ingin putrinya hidup dalam keadaan kesulitan, walaupun mungkin itu akan mengubahnya menjadi lebih baik. Andai ada jalan yang lebih baik, kami sangat berharap Kakak menjalani yang lain saja.

Perjalanan Kakak masih panjang, tahun depan adalah masa ia menentukan perjalanan hidup selanjutnya. Apapun pilihan Kakak nanti, sebagai emaknya, saya berharap ia memilih yang terbaik dan Allah SWT memberi berkah dunia akhirat atas pekerjaan itu.

Saya hanya sedikit senang. Hari ini kembali bisa mendengarkan putri saya, tidak berusaha untuk menentang apalagi menjelekkan pilihannya. Kadang sama anak ya seperti itu. Kita hanya bisa mendengarkan. Kita mungkin sudah terlalu banyak berbicara, dan lupa bahwa mungkin justru karena apa yang kita katakan, anak-anak pun akhirnya melakukan seperti yang kita katakan.
"Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them." — James Baldwin, novelist and social critic

19 April 2018

Kunjungan Edukatif ke Among Putro Sky World Taman Mini Indonesia Indah

Sekitar pertengahan Januari 2018 lalu, putri bungsu melakukan perjalanan edukatif ke sebuah wahana bertema luar angkasa di Taman Mini Indonesia Indah. Sebenarnya ia mengunjungi dua lokasi, yang satu ke Lubang Buaya dan yang ke dua di Among Putro SkyWorld Taman Mini Indonesia Indah ini.

[caption id="" align="alignleft" width="643"] Pintu Depan Gedung SkyWorld[/caption]

[caption id="" align="alignleft" width="648"] Pelataran Depan SkyWorld[/caption]

Saya sih belum pernah ke Lubang Buaya (Duh, ini orang Jakarta kurang piknik ya) tapi putra dan suami sudah sering ke sana. Seperti adiknya juga, dengan kunjungan edukatif. Akhirnya kami sepakat, langsung ke Taman Mini tanpa singgah ke Lubang Buaya.

Nah, di wahana ini sebenarnya kami bisa saja langsung masuk. Berhubung baru selesai hujan dan suasana mendung, saya meminta untuk istirahat sebentar. Perjalanan segitu buat saya udah cukup melelahkan kalau langsung diteruskan, meski hanya bermain. Saya memilih duduk-duduk di lobby luar, menunggu putri saya. Sementara Abang sibuk bereksplorasi dengan kamera, termasuk motret Emaknya.

Lobby[/caption]

Saat menunggu, ada rombongan beberapa sekolah yang tiba ke lokasi tersebut. Gedung yang tadinya sunyi senyap, mendadak ramai dengan rombongan anak SMP dengan jumlah besar (sekitar 5 bis) dan semuanya masuk ke dalam. Rombongan itu juga diramaikan dengan para guru dan beberapa orangtua. Tak lama, datang lagi rombongan anak TK. Jumlahnya hanya belasan dan lebih banyak orangtuanya.

Waduh, membayangkan kalau nanti rombongan anak saya datang jadi rada parno. Putri saya masih SD, dengan segitu banyak orang di dalam, apa jadinya mereka?

Tapi ternyata saya tak perlu kuatir, area di dalam cukup luas. Mereka masuk itu juga sudah diatur secara bergantian, termasuk menggunakan berbagai wahana di bagian dalam.

Pihak SkyWorld menyediakan dua paket tiket yaitu pribadi dan rombongan. Pilihan paket rombongan pun dibagi dua lagi, termasuk yang dilengkapi dengan makan siang (100 ribu Rupiah per orang). Sementara harga tiket biasa Rp. 60.000/orang.

[caption id="" align="aligncenter" width="728"] Pintu Masuk Among Putro SkyWorld[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="723"] Jajaran Tokoh-Tokoh Astronomi Dunia[/caption]





Wahana yang ada di dalam itu antara lain Planetarium (ada keterangan waktu main di salah satu foto), Nonton video 3D dengan kapasitas tak sampai 20 orang, kolam renang anak, area bermain anak (panjat dinding, mandi bola, bouncer dsbnya).

[caption id="" align="aligncenter" width="681"] Jadwal Planetarium[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="680"] Planetarium[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="774"] Kolam renang anak[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="764"] Arena Bermain Anak[/caption]



Di area ini, ada juga kantin dan toko souvenir kecil bagi yang ingin beristirahat makan dan minum sejenak sebelum masuk Planetarium. Sementara di belakang tempat permainan anak, ada ruang makan besar untuk rombongan (lesehan) dan ruang visual mengenai semua hal tentang luar angkasa dari kakak-kakak petugas SkyWorld.

[caption id="" align="aligncenter" width="300"] Salah satu menu yang dijual: Nasi Goreng (kalau tak salah harganya sekitar Rp. 15.000)[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="749"] Kantin & Toko Souvenir[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="762"] Tempat Duduk Santai[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="779"] Area Istirahat IPlayground, Kolam Renang, Taman, Miniatur Roket, Kantin & Toko Souvenir)[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="751"] Ruang Visual Untuk Rombongan[/caption]

Ada juga wahana Sky Laser, yang letaknya di bagian luar sebelah kanan Lobby. Harga tiketnya untuk penggunaan wahana yang satu ini berbeda dengan tiket masuk Among Putro Sky World. Sky Laser ini kayak perang-perangan pake senjata ala Star Wars.

[caption id="" align="aligncenter" width="324"] Ruang SkyLaser : Lupakan yang lagi gaya alay itu yaaa, anggap gak lihat >_<[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="728"] Wahana Sky Laser (Harus bayar tiket lagi untuk menggunakan wahana ini dan ada minimal pemain)[/caption]

Pintu keluar SkyWorld sendiri berada di belakang, jadi berbeda dengan pintu masuknya.

[caption id="" align="aligncenter" width="754"] Bagian belakang SkyWorld[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="283"] Jalan menuju pintu keluarnya[/caption]

Oh iya, ada beberapa miniatur roket, baik di luar maupun di dalam gedung SkyWorld. Lumayan bagus untuk spot foto.





[caption id="" align="aligncenter" width="448"] Miniatur Roket[/caption]

Jadi untuk yang belum pernah ke sana, bagus untuk mengenalkan putra-putri terhadap perkembangan ilmu astronomi, pengetahuan tentang luar angkasa dan tentu saja bersenang-senang di akhir kunjungan.

Selamat merencanakan bersenang-senang!

Seluruh foto dalam tulisan ini adalah koleksi pribadi hasil dokumentasi putra saya, jadi mohon cantumkan namanya "Koleksi Pribadi FZ Reza" jika mengambil untuk keperluan non komersial. Terima kasih.